Deru motor Honda keluaran tahun 2000-an memecah keheningan malam jalanan lengang menuju arah Jl. Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Kala itu, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sengaja saya memalak seorang sahabat yang tinggal di Jogja untuk mengantar berkeliling menikmati malam dan mencoba kuliner baru, tentu saja. Gak tau diri yes?! Sedikit sih, tapi toh sahabat saya tetep bersedia menghampiri saya di parkiran sebuah hotel yang terletak di kawasan Malioboro, hahaha… (semoga gak terpaksa).
Karena mendengar sebutan “Sate Klathak” dari seorang kawan baru dalam sebuah bus yang mengantar saya kembali ke Jogja dari Gunungkidul, otomatis saya minta diantar untuk mencicipi sate yang katanya wajib icip setiap kamu ke Jogja. Jadi selepas nangkring, eh nongkrong di sebuah angkringan, kita cuss ke arah Imogiri.
Udara dingin Jogja selepas hujan kala itu berhasil membuat kantuk saya hilang dan berganti dengan rasa penasaran, membayangkan seperti apa rasa sate klathak ini. Begitu memasuki Jl. Imogiri, di sepanjang jalan banyak berjajar depot yang bertuliskan “Sate Klathak” di depannya. Jangan heran, sate klathak memang menjadi sajian khas di wilayah ini. Jadi depot-depot tadi menjajakan sajian yang sama, terserah kalian mau masuk ke depot yang mana, semuanya kembali ke selera masing-masing.
Bukannya parkir di sebuah depot, namun sahabat saya memilih mengarahkan motornya masuk ke dalam sebuah pasar, Pasar Jejeran namanya, berlokasi di Jl. Imogiri Timur. Tidak nampak depot atau warung di dalam sana. Yang saya lihat hanyalah seorang bapak penjual sate klathak yang duduk di belakang perabot minimalis miliknya. Seolah-olah, bapak tadi cuma ngemper di sebuah petak pasar yang kosong ketika malam menjelang.
“Kenapa milih disini Ho, bukannya di depot-depot sepanjang jalan raya tadi?!”, tanya saya ke sahabat.
“Rasa sate disini lebih cocok di lidahku…”, jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Oke, saya yakinlah dengan pilihan seorang yang doyan makan dan sangat menguasai Jogja dan sekitarnya. Well, malam itu kami memesan dua porsi sate klathak beserta nasi putih hangat, seporsi tongseng dan dua gelas teh hangat.
Sebenernya apa sih sate klathak itu?! Sate klathak adalah sate yang berasal dari daging kambing muda. Dinamakan “klathak” konon katanya berasal dari bunyi daging yang dibakar di atas bara api. Beda sate ini dengan sate kebanyakan adalah penjual baru mengiris daging ketika ada pesanan. Jadi bagian tubuh kambing digantung begitu saja, persis di pasar daging. Begitu ada pesanan, si penjual menyayat daging tadi dan mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil.
Yang unik selanjutnya dari sate yang dibakar di atas tungku ini adalah potongan dagingnya gede-gede, kemudian ditusuk menggunakan jeruji besi dari velg sepeda motor. Apa?! Iya, mereka tidak menggunakan lidi atau bambu untuk menusuk daging, namun menggunakan besi. Mungkin dikarenakan ukuran daging yang besar sehingga perlu besi untuk mematangkan daging tersebut secara maksimal hingga ke bagian dalam.
Belum cukup disitu, cara pengolahan sate inipun berbeda dengan sate kebanyakan. Yang saya maksud adalah dari segi bumbu. Jika sate “konvensional” menggunakan bumbu beraneka ragam serta kecap ketika dibakar, namun tidak untuk sate klathak. Para penjual sate klathak hanya melumuri daging kambing muda itu dengan garam dan sedikit merica, sudah itu doank! Hemmm… Melihat proses awalnya saja begitu menarik, lalu bagaimana dengan rasanya…?!
Setelah menunggu sambil ngobrol dengan bapak penjual serta mengamati prosesnya dari awal, sate pesanan sayapun terhidang di atas tikar. Aroma daging yang dibakar langsung menyeruak hidung. Tampilannya segede gaban, tidak heran jika seporsi sate klathak hanya terdiri dari dua tusuk sate. Rasa original daging kambing muda begitu terasa, karena hanya dibumbui garam dan merica. Teksturnya juga lembut. Mungkin sekilas mirip kambing guling ya, selain adanya beberapa bagian yang gosong efek bakaran. Menurut saya sih, jika makan sate ini saja dengan nasi putih tanpa adanya menu pendamping, rasanya kurang nendang. Beruntung si Hoho memesan seporsi tongseng. Yah walopun saya gak makan jeroan kambing yang terendam di dalamnya, kuah tongseng yang berbumbu dan sedikit pedas mampu menjadi paduan yang mantab ketika menikmati sate klathak ini.
Nah, bagi kalian yang bosan dengan gudheg ketika berkunjung ke Jogja, sajian ini bisa menjadi alternatif pilihan di kala malam hari. Lokasinyapun hanya berjarak sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Jogja. Jadi, gak ada salahnya mencoba sate yang “abnormal” ini. Salam kuliner!
Sate Klathak Pak Yabid
Pasar Jejeran, Jl. Imogiri Timur, Yogyakarta
Jam operasional 19.00-01.00 WIB
Harga :
Sate Klathak (seporsi 2 tusuk) Rp 10.000,00
Tongseng Rp 10.000,00
Nasi Putih Rp 3.000,00
Teh Hangat Rp 2.000,00
Post a Comment