Jawa Timur, merupakan salah satu provinsi yang menurut Triphemat sukses mengembangkan kepariwisataannya. Objek-objek pariwisata yang makin bermunculan dimana-mana membuat wisatawan tidak bosan-bosan mengunjungi salah satu provinsi paling padat di Pulau Jawa ini. Sebut saja Jember Fashion Carnival (JFC) yang mampu menyedot perhatian wisatawan mancanegara untuk datang. Mulai dari wisata alam sampai wisata perkotaan semua komplit disuguhkan di provinsi paling timur Pulau Jawa ini, dan berikut beberapa objek wisata rekomendasi Triphemat yang traveler bisa kunjungi.
Situs Majapahit Trowulan Mojokerto
Trowulan adalah sebuah nama desa kecil di luar kota Mojokerto Jawa Timur. Di desa ini banyak ditemukan situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit. Beberapa sudah direkonstruksi dan diberi tambahan fasilitas untuk wisatawan, namun beberapa juga masih dalam proses penggalian. Di sini juga terdapat sebuah kolam besar yang konon dulunya adalah tempat mandi raja. Bahan dasar candi atau bangunan-bangunannya sudah menggunakan batu bata yang kualitasnya jauh lebih bagus dari batu bata yang ada saat ini. Untuk menuju Trowulan bisa melalui Mojokerto, dan traveler bisa menyewa jasa ojek untuk mengelilingi situs-situsnya, termasuk Museum yang mengoleksi benda-benda peninggalan Majapahit.
Pantai Klayar, Pantai Srau, dan Goa Gong Pacitan
Kabupaten Pacitan berada di ujung barat daya provinsi Jawa Timur, berbatasan dengan Trenggalek, Ponorogo, Wonogiri dan Samudera Hindia. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur yang kurang subur, sehingga kurang cocok untuk pertanian. Namun dibalik itu, Pacitan memiliki tempat-tempat wisata yang indah dan patut untuk dikunjungi. Diantaranya Pantai Klayar yang eksotis, Pantai Srau yang menantang, dan Goa Gong yang menakjubkan.
Pantai Klayar adalah pantai berpasir putih dan masih asri yang memiliki gugusan karang di sekitarnya. Di pantai ini terdapat karang yang memiliki celah dan akan mengeluarkan bunyi setiap dihempas ombak, warga sekitar kemudian menamakannya seruling laut. Sedangkan Pantai Srau memiliki ombak yang sangat cocok untuk surfing, ada tiga spot yang biasa digunakan untuk surfing yaitu spot Portal, spot Pancingan dan spot Pandan. Selain itu, traveler juga bisa melakukan aktifitas snorkeling. Kemudian ada Goa Gong yang memiliki pemandangan yang spektakuler, jangan dulu membayangkan suasana lembab dan becek layaknya goa pada umumnya, karena Goa Gong ini jauh sekali dari kesan-kesan tersebut. Oleh pemerintah, para turis sudah diberikan kemudahan akses untuk menikmati goa ini lebih leluasa yaitu dengan dibangunnya jalan beton setapak di sepanjang goa dan beberapa penerangan remang-remang.
Taman Nasional Alas Purwo
Alas Purwo adalah kawasan hutan hujan tropis alami dan disebut paling tua di Pulau Jawa. Memiliki luas sekitar 43.000 ha. Di sini dapat ditemui habitat banteng jawa, harimau jawa, burung merak, babi hutan, rusa dan hewan lainnya. Taman Nasional ini bisa diakses melalui daerah Tegaldlimo – Banyuwangi. Daerah-daerah yang bisa dikunjungi antara lain, Pancur (merupakan pintu masuk ke Pantai Plengkung/G-Land), Pantai Trianggulasi dan Ngagelan (melihat penyu bertelur), Tanjung Sembulungan (panorama pegunungan, hutan dan tebing karang), Cunggur (area migrasi burung dari Australia), Kayu Aking (pantai berpasir putih), Bedul (hutan mangrove, termasuk yang terbesar se-Asia), dan Sadengan (menara pandang untuk mengamati hewan-hewan di padang rumput).
Masyarakat di sekitar Taman Nasional Alas Purwo ini mayoritas berasal dari Mataraman Kuno yang berbudaya Jawa Tradisional. Jadi jangan heran jika menjumpai kegiatan kejawen seperti bertapa dan upacara-upacara spiritual lain. Selain banyak terdapat gua-gua yang digunakan untuk bermeditasi, di dalam hutan Alas Purwi ini juga terdapat sebuah Pura Hindu yang sudah sangat tua dan masih sering dikunjungi para penganut agama Hindu sampai sekarang.
Rafting Sungai Pekalen Probolinggo
Sungai Pekalen mengalir di kota Probolinggo. Mata air sungai ini berasal dari Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan. Jalur pengarungan sejauh 29 km dan terbagi menjadi 3 area sesuai gradenya. Jeram yang terdapat disini merupakan jeram class 2 sampai class 5. Saat pengarungan, kita akan menembus sebuah air terjun yang jatuh dari atas batu payung yang menaungi sungai dibawahnya. Ada dua operator rafting yang melayani pengarungan di Sungai Pekalen, yaitu Songa dan Noars. Untuk menemukannya tidaklah sulit, cukup ikuti jalan utama di Probolinggo.
Jember Fashion Carnival
Jember adalah kota terbesar ke-3 di Provinsi Jawa Timur. Nama Jember semakin melejit dengan diadakannya parade busana Jember Fashion Carnival yang mampu menyedot perhatian turis mancanegara. JFC ini terlaksana atas prakarsa masyarakat Jember tanpa dibantu pembiayaannya oleh pemerintah, dan digagas pertama kalinya oleh Dynand Fariz. Sebanyak ratusan peserta akan ber-fashion run away dan menari di sepanjang 3,6 km jalanan Jember, disaksikan oleh ratusan ribu penonton yang berderet di kiri kanan jalan.
Peserta terbagi dalam defile-defile yang masing-masing defile mencerminkan tren busana tahun yang bersangkutan. Antara lain, defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya. Lalu Defile yang mengangkat tema fashion yang sedang trend dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Semua busana dibuat dalam bentuk kostum yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan. JFC pertama diadakan pada 1 Januari 2003, bertepatan dengan HUT Jember, yang kemudian dilaksanakan berkelanjutan, biasanya jatuh pada bulan Agustus setiap tahunnya.
Pantai Watu Ulo, Papuma dan Payangan Jember
Selain tenar dengan Jember Fashion Carnivalnya, Kota Jember juga punya pantai-pantai indah yang bisa dijadiin daftar kunjungan. Antara lain Pantai Watu Ulo, Pantai Papuma, dan Pantai Payangan. Ketiga pantai ini terletak berdekatan. Sebelum Papuma dan Payangan mulai terkenal, Watu Ulo terlebih dahulu menjadi ikon wisata pantai Kota Jember. Watu Ulo berarti ‘batu ular’ menurut bahasa jawa. Dinamakan demikian karena terdapat gugusan bebatuan karang yang memanjang ke arah laut. Setiap tanggal 7 Syawal, warga setempat selalu mengadakan acara Petik Laut atau Larung Sesaji dimana para nelayan setempat akan melemparkan sesaji ke laut sebagai ungkapan terimakasih pada lautan.
Adapun Pantai Papuma dan Payangan menyusul ketenarannya setelah Watu Ulo. Kedua pantai ini tergolong masih sepi pengunjung karena namanya mungkin belum terlalu sering terdengar. Namun demikian membuat kedua pantai ini tampak masih asri. Dari segi keindahan, kedua pantai ini tak kalah dibanding Watu Ulo.
Taman Nasional Meru Betiri
Taman Nasional Meru Betiri terletak di pesisir selatan Kabupaten Jember Jawa Timur. Nama Meru Betiri diambil dari dua buah nama gunung yang ada di kawasan taman nasional, yaitu Gunung Meru dan Gunung Betiri. TN Meru Betiri adalah salah satu taman nasional terbaik di Indonesia, dengan luas kurang lebih 58.000 ha dan memiliki 5 vegetasi, yaitu hutan pantai, hutan mangrove, hutan rheophyte dan hutan hujan dataran rendah. Di kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini juga tumbuh tanaman langka Raflesia Zollingeriana Kds, yang merupakan tanaman endemik bagian timur Pulau Jawa. Kegiatan yang bisa dilakukan di kawasan taman nasional ini antara lain Jungle Tracking (Bandealit – Sukamade), melihat penyu bertelur (Sukamade), berkano, berenang, dan menikmati keindahan alam Meru Betiri. Untuk memulainya traveler bisa masuk melalui Bandealit – Jember atau Sukamade – Banyuwangi.
Pusat Pendidikan Alam dan Budaya Kaliandra Pasuruan
Kaliandra terletak di kaki Gunung Arjuno, Pasuruan, Jawa Timur. Kaliandra adalah sebuah area perkampungan terpadu yang dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat berbadan hukum Yayasan. Di Kaliandra wisatawan bisa ikut dalam program-program pendidikan seperti, pendidikan alam, pendidikan budaya, pengembangan SDM dan outbond. Dengan suasana pedesaan yang damai, udara yang sejuk, dan tata bangunan yang artistik, membuat Kaliandra cocok sebagai tempat untuk melarikan diri dari kepenatan ibukota.
Situs Majapahit Trowulan Mojokerto
Candi_Tikus trowulan
Trowulan adalah sebuah nama desa kecil di luar kota Mojokerto Jawa Timur. Di desa ini banyak ditemukan situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit. Beberapa sudah direkonstruksi dan diberi tambahan fasilitas untuk wisatawan, namun beberapa juga masih dalam proses penggalian. Di sini juga terdapat sebuah kolam besar yang konon dulunya adalah tempat mandi raja. Bahan dasar candi atau bangunan-bangunannya sudah menggunakan batu bata yang kualitasnya jauh lebih bagus dari batu bata yang ada saat ini. Untuk menuju Trowulan bisa melalui Mojokerto, dan traveler bisa menyewa jasa ojek untuk mengelilingi situs-situsnya, termasuk Museum yang mengoleksi benda-benda peninggalan Majapahit.
Pantai Klayar, Pantai Srau, dan Goa Gong Pacitan
Pantai Klayar adalah pantai berpasir putih dan masih asri yang memiliki gugusan karang di sekitarnya. Di pantai ini terdapat karang yang memiliki celah dan akan mengeluarkan bunyi setiap dihempas ombak, warga sekitar kemudian menamakannya seruling laut. Sedangkan Pantai Srau memiliki ombak yang sangat cocok untuk surfing, ada tiga spot yang biasa digunakan untuk surfing yaitu spot Portal, spot Pancingan dan spot Pandan. Selain itu, traveler juga bisa melakukan aktifitas snorkeling. Kemudian ada Goa Gong yang memiliki pemandangan yang spektakuler, jangan dulu membayangkan suasana lembab dan becek layaknya goa pada umumnya, karena Goa Gong ini jauh sekali dari kesan-kesan tersebut. Oleh pemerintah, para turis sudah diberikan kemudahan akses untuk menikmati goa ini lebih leluasa yaitu dengan dibangunnya jalan beton setapak di sepanjang goa dan beberapa penerangan remang-remang.
Taman Nasional Alas Purwo
Alas Purwo adalah kawasan hutan hujan tropis alami dan disebut paling tua di Pulau Jawa. Memiliki luas sekitar 43.000 ha. Di sini dapat ditemui habitat banteng jawa, harimau jawa, burung merak, babi hutan, rusa dan hewan lainnya. Taman Nasional ini bisa diakses melalui daerah Tegaldlimo – Banyuwangi. Daerah-daerah yang bisa dikunjungi antara lain, Pancur (merupakan pintu masuk ke Pantai Plengkung/G-Land), Pantai Trianggulasi dan Ngagelan (melihat penyu bertelur), Tanjung Sembulungan (panorama pegunungan, hutan dan tebing karang), Cunggur (area migrasi burung dari Australia), Kayu Aking (pantai berpasir putih), Bedul (hutan mangrove, termasuk yang terbesar se-Asia), dan Sadengan (menara pandang untuk mengamati hewan-hewan di padang rumput).
Masyarakat di sekitar Taman Nasional Alas Purwo ini mayoritas berasal dari Mataraman Kuno yang berbudaya Jawa Tradisional. Jadi jangan heran jika menjumpai kegiatan kejawen seperti bertapa dan upacara-upacara spiritual lain. Selain banyak terdapat gua-gua yang digunakan untuk bermeditasi, di dalam hutan Alas Purwi ini juga terdapat sebuah Pura Hindu yang sudah sangat tua dan masih sering dikunjungi para penganut agama Hindu sampai sekarang.
Rafting Sungai Pekalen Probolinggo
Sungai Pekalen mengalir di kota Probolinggo. Mata air sungai ini berasal dari Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan. Jalur pengarungan sejauh 29 km dan terbagi menjadi 3 area sesuai gradenya. Jeram yang terdapat disini merupakan jeram class 2 sampai class 5. Saat pengarungan, kita akan menembus sebuah air terjun yang jatuh dari atas batu payung yang menaungi sungai dibawahnya. Ada dua operator rafting yang melayani pengarungan di Sungai Pekalen, yaitu Songa dan Noars. Untuk menemukannya tidaklah sulit, cukup ikuti jalan utama di Probolinggo.
Jember Fashion Carnival
Peserta terbagi dalam defile-defile yang masing-masing defile mencerminkan tren busana tahun yang bersangkutan. Antara lain, defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya. Lalu Defile yang mengangkat tema fashion yang sedang trend dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Semua busana dibuat dalam bentuk kostum yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan. JFC pertama diadakan pada 1 Januari 2003, bertepatan dengan HUT Jember, yang kemudian dilaksanakan berkelanjutan, biasanya jatuh pada bulan Agustus setiap tahunnya.
Pantai Watu Ulo, Papuma dan Payangan Jember
Selain tenar dengan Jember Fashion Carnivalnya, Kota Jember juga punya pantai-pantai indah yang bisa dijadiin daftar kunjungan. Antara lain Pantai Watu Ulo, Pantai Papuma, dan Pantai Payangan. Ketiga pantai ini terletak berdekatan. Sebelum Papuma dan Payangan mulai terkenal, Watu Ulo terlebih dahulu menjadi ikon wisata pantai Kota Jember. Watu Ulo berarti ‘batu ular’ menurut bahasa jawa. Dinamakan demikian karena terdapat gugusan bebatuan karang yang memanjang ke arah laut. Setiap tanggal 7 Syawal, warga setempat selalu mengadakan acara Petik Laut atau Larung Sesaji dimana para nelayan setempat akan melemparkan sesaji ke laut sebagai ungkapan terimakasih pada lautan.
Adapun Pantai Papuma dan Payangan menyusul ketenarannya setelah Watu Ulo. Kedua pantai ini tergolong masih sepi pengunjung karena namanya mungkin belum terlalu sering terdengar. Namun demikian membuat kedua pantai ini tampak masih asri. Dari segi keindahan, kedua pantai ini tak kalah dibanding Watu Ulo.
Taman Nasional Meru Betiri
Taman Nasional Meru Betiri terletak di pesisir selatan Kabupaten Jember Jawa Timur. Nama Meru Betiri diambil dari dua buah nama gunung yang ada di kawasan taman nasional, yaitu Gunung Meru dan Gunung Betiri. TN Meru Betiri adalah salah satu taman nasional terbaik di Indonesia, dengan luas kurang lebih 58.000 ha dan memiliki 5 vegetasi, yaitu hutan pantai, hutan mangrove, hutan rheophyte dan hutan hujan dataran rendah. Di kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini juga tumbuh tanaman langka Raflesia Zollingeriana Kds, yang merupakan tanaman endemik bagian timur Pulau Jawa. Kegiatan yang bisa dilakukan di kawasan taman nasional ini antara lain Jungle Tracking (Bandealit – Sukamade), melihat penyu bertelur (Sukamade), berkano, berenang, dan menikmati keindahan alam Meru Betiri. Untuk memulainya traveler bisa masuk melalui Bandealit – Jember atau Sukamade – Banyuwangi.
Pusat Pendidikan Alam dan Budaya Kaliandra Pasuruan
Kaliandra terletak di kaki Gunung Arjuno, Pasuruan, Jawa Timur. Kaliandra adalah sebuah area perkampungan terpadu yang dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat berbadan hukum Yayasan. Di Kaliandra wisatawan bisa ikut dalam program-program pendidikan seperti, pendidikan alam, pendidikan budaya, pengembangan SDM dan outbond. Dengan suasana pedesaan yang damai, udara yang sejuk, dan tata bangunan yang artistik, membuat Kaliandra cocok sebagai tempat untuk melarikan diri dari kepenatan ibukota.
berkunjung ke pantai favorit watu ulo itu yang pas bulan syawal, bisa menyaksikan ritual Larung sesaji. dan event seru lain nya. Btw sekarang tiket nya berapa ya?
ReplyDelete