0
Peninggalan Keraton Kartosuro (Foto: Bramantyo/Okezone)

SUKOHARJO - Siapa yang mengira bila Kisruh di internal Keraton Kasunanan Surakarta,Jawa Tengah tak lepas dari sejarah berdirinya Keraton Kasunanan yang merupakan satu rangkaian dari sejarah Kerajaan Mataram.

Sejak berdirinya Kerajaan Mataram sebelum akhirnya dipindah ke Keraton Kartosuro, sebelum berakhir dengan berdiri Keraton Kasunanan Surakarta, konflik selalu mewarnai perjalanan dinasti Mataram ini.

Bahkan hingga akhirnya dinasti keturunan Mataram tersebut terbelah menjadi dua wilayah Solo dan Jogjakarta konflik selalu mengiringinya. Termasuk, saat Keraton Kasunanan wilayahnya kembali dibagi dengan berdirinya Pura Mangkunegaran, konflik selalu mengikutinya.

Putra dari juru kunci bekas Keraton Kartosuro, Suryo menceritakan awal keberadaan Keraton Kartosuro didirikan tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat yang ke II, putra Sunan Amangkurat I.

"Berdirinya Keraton Kartosuro disebabkan Kerajaan pertama sudah hancur dan diduduki oleh musuh yang terkenal dengan pemberontakan Trunojoyo,"jelas Suryo saat berbincang dengan Okezone,di lokasi bekas Keraton Kartosuro, Kecamatan Kartosuro, Sukoharjo, belum lama ini.

Keraton Plered (Mataram Kuno),ungkap Suryo, dibangun oleh Sunan Amangkurat I di wilayah Bantul. Sunan Amangkurat I menginginkan wilayah Keraton yang dekat dengan sumber mata air yang mengalir sehingga di beri nama Plered. Namun usia Kerajaan Plered hanya satu periode karena terjadi pemberontakan Trunojoyo.

Pada pemberontakan Trunojoyo, Sunan Amangkurat I tak mampu menghadapinya sendiri. Hingga akhirnya Sunan Amangkurat I meminta bantuan pada pihak Kompeni di Batavia untuk menumpas pemberontakan Trunojoyo yang sangat dahsyat tersebut. Ketika Sunan Amangkurat I pergi meminta bantuan Kompeni Belanda itulah, Kerajaan Plered jatuh ketangan Trunojoyo.

"Saat dalam perjalanan menemui Gubernur Jendral VOC, Amangkurat I sakit dan meninggal dunia di wilayah Tegalarum. Sebelum wafat Amangkurat I berpesan pada putranya Amangkurat II menggantikan ayahnya menjadi raja dan segera menumpas pemberontakan Trunojoyo,"paparnya.

Akhirnya dengan bantuan Kompeni, Amangkurat II berhasil memadamkan pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1680. Sebagai imbalannya, Belanda meminta imbal balik dengan menyerahkan beberapa pelabuhan di Pulau Jawa. Meskipun sangat merugikan pihak Mataram, namun karena Mataram sepeninggal Sultan Agung sangat dekat dengan Kompeni,maka permintaan tersebut dipenuhi.

Menurut Suryo,setelah pemberontakan Trunojoyo berhasil di padamkan, Sunan Amangkur II menolak kembali ke Kraton Plered. Alasannya, Keraton Plered sudah pernah diduduki musuh yaitu Trunojoyo. Karena menurut kepercayaan Jawa, Kraton yang sudah diduduki musuh sudah tidak sakral lagi. Sehingga kewibawaanya sudah hilang. Sehingga pantang bagi Amangkurat II menempati Kerajaan yang pernah diduduki musuh.

Akhirnya dalam perjalanan pulang setelah membasmi pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II mampir ke Semarang menemui penguasa VOC di wilayah yang dikuasai Jacoob Cooper. Sebenarnya, Semarang termasuk salah satu wilayah yang dikuasai dinasti Mataram. Namun pada tahun 1678 Semarang sudah di gadaikan pada Kompeni.

Belanda menyambut kedatangan Amangkurat II dengan pertemuan agung yaitu perayaan keberhasilan menumpas pemberontakan Trunojoyo dan kedua rapat musyawarah yang intinya Sunan Amangkurat II menolak kembali ke Kraton Pleret dan menginginkan kraton yang baru.

"Dalam pertemuan tersebut sebenarnya ada tiga lokasi yang ditawarkan untuk didirikan keraton baru. Ketiga tempat yang diawarkan penasihat raja bernama Nerang Kusuma, yaitu pertama Loh Gender (Semarang), Tingkir (Salatiga), dan alas Wanakarta,"ujarnya.

Akhirnya di pilih Wanakarta dengan pertimbangan yaitu leluhurnya yaitu Pangeran Pekik pernah mimpi bahwa cucunya kelak akan menjadi raja di sebelah selatan. Diambilnya wilayah tersebut disebabkan masih ada kedekatan sejarah dengan leluhurnya Sunan Amangkurat II yaitu wilayah Pleret dan Pajang. Selin itu wilayah tersebut subur dan dekat dengan mata air serta terlindung dari Gunung Merapi.

Sunan Amangkurat II menghendaki Kraton yang baru sama persis dengan keraton Pleret. Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat II dan bernama Kraton Kartasura Hadiningrat. Kartosura diambil dari nama hutan Wanakarto diambil Karto dan suro diambil dari nama bulan suro (Muharam) yang merupakan bulan yang sangat bagus. 

Post a Comment

 
Top