SUKOHARJO - Pasca geger pecinan yang di pimpin Raden Mas Garendhi atau terkenal dengan sebutan Sunan Kuning, Keraton Kartosuro jadi hancur. Meski keratonya masih berdiri, namun harta kekayaanya sudah dirampas.
Berdasar tradisi dan juga kepercayaan jawa, keraton yang sudah pernah di duduki musuh dianggap tidak memiliki wibawa lagi. Karena auranya dianggap sudah menghilang. Seperti leluhurnya Amangkurat II, Paku Buwono II memerintahkan pada punggawa kerajaan agar mencari lokasi lain untuk di jadikan keraton yang baru.
Dalam pencarian tersebut ada 3 tempat yang diusulkan sebagai lokasi berdirinya Keraton baru. Lokasi pertama berada di wilayah Kadipolo. Tepatnya di desa bernama Tolowangi. Namun setelah diukur,wilayah tersebut dianggap tidak luas. Sehingga di khawatirkan nasibnya akan sama seperti Keraton Kartosura. Selain itu letaknya berada ditengah sehingga jadi mudah di serang.Karena tidak memiliki Jadi pertahanan kurang.
"Yang kedua desa Talangwangi, timur bengawan solo.Tepatnya di sekitar Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Sebenarnya lokasinya bagus, namun sekali lagi pertahanannya kurang kuat kurang mendukung. Selain itu aksesnya masih sulit karena harus menyebrang bengawan Solo,sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan Batavia."jelas Putra juru kunci Situs Keraton Kartosuro, Raden Tumenggung Kerti Hastono Putra, suryolesmana,saat berbincang dengan Okezone,di Situs Keraton Kartosuro,Kecamatan Kartosuro, Sukoharjo,Jawa Tengah.
Lokasi ketiga adalah Kedung Lumbu. Meskipun kala itu Kedung Lumbu dulunya sebuah rawa dan banyak ditumbuhi pohon Sala dan masih berupa hutan yang sangat rimbun dan ditunggui seorang pertapa bernama Kyai Sala.
Namun berdasarkan petunjuk Kyai lokasi ini sangat cocok dibangun keraton yang baru. Bahkan Keraton baru ini bisa bertahan seumur-umur. Semula, karena dianggap masih rawa-rawa sehingga mustahil untuk disumbat airnya. Apalagi sumber air di rawa tersebut langsung dari pantai selatan.
Dengan usaha dan ritual tertentu akhirnya air rawa bisa tersumbat dan dikeringkan sehingga bisa di bangun Kraton di lokasi tersebut. Rawa tersebut ditimbun dengan tanah yang diambil di desa Kratonan. Lokasi sumber mata air di duga berada di sitihinggil kraton Surakarta.
"Hingga akhirnya Keraton baru terbentuk pada masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwana II (1726 1749), Keraton Kartasura dipindahkan ke desa Sala tepatnya pada tanggal 17 Februari 1745 dan diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat. Dengan diiringi pasukan kompeni melakulan boyong kedathon ke tempat yang baru yaitu desa Sala,"paparnya.
Pada masa kepemimpinan Paku Buwono III inilah terjadi perpecahan di Keraton Kasunanan Surakarta yang menyebabkan Keraton Mataram di pecah menjadi dua yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Jogjakarta, ditandai dengan munculnya pemberontakan yang dikenal dengan perang suksesi pertama. Perang suksesi adalah perang saudara yang memperebutkan warisan.
Pemberontakan ini di lakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang merupakan adik dari Paku Buwono II. Karena pemberontakan Pangeran Mangkubumi sulit di padamkan, atas saran Belanda Pangeran Mangkubumi diberikan apa yang menjadi tuntutan Pangeran Mangkubumi yaitu tanah atau wilayah kekuasaan.
Akhirnya Pangeran Mangkubumi diberikan wilayah di Yogyakarta. Luas wilayah di bagi sigar semangka (sama rata). Namun oleh Paku Buwono (PB) III memberi peringatan kepada Pangeran Mangkubumi untuk tidak menggunakan gelar Sunan, dan tidak boleh menjadi raja seperti di Surakarta.
"Karena Pangeran Mangkubumi adalah adik maka hanya boleh bergelar Sultan. Sedangkan Sunan atau Susuhunan kedudukannya lebih, sehingga hanya Keraton Kasunanan Surakarta yang berhak menyandang gelar tersebut termasuk Raja. Karena Lebih tinggi dan merupakan pusat pemerintahan dan agama,"ungkapnya.
Dua tahun setelah Keraton Mataram di pecah menjadi dua, tahun 1757 timbul lagi pemberontakan yang di lakukan oleh adik dari Pangeran Mangkubumi yang bernama Raden Mas Sahid (Pangeran Samber Nyawa) yang juga menuntut hak yang sama. Yaitu meminta bagian wilayah yang sama seperti kakaknya Pangeran Mangkubumi.
Terjadi lagi perang suksesi yang kedua. Dan atas saran dari Belanda, maka wilayah Keraton Kasunanan Surakarta kembali di bagi lagi menjadi dua.
Oleh Paku Buwono (PB) III, Raden Mas Sahid atau Pangeran Samber Nyawa di berikan wilayah di bagian utara keraton Kasunanan, namun berupa wilayah kadipaten.
"Dan diberikan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Adipati Mangkoenegoro I. Wilayahnya berupa kadipaten dan bernama Pura. Pada masa Paku Buwono (PB) III inilah, akhirnya Keraton Mataram di pecah menjadi tiga yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Yogjakarta dan Pura Mangkunegaran.
Post a Comment