0
Bekas Keraton Kartosuro, kini jadi pemakaman (Foto: Bramantyo/Okezone)
SUKOHARJO- Setelah Keraton Kartosura ditinggalkan dan berpindah ke Surakarta pada tahun 1745, praktis pusat pemerintahan juga ikut berpindah ke Keraton yang baru di desa Sala.

Karena ditinggal penghuninya, maka Keraton Kartosuro kembali menjadi hutan belantara. Bahkan benteng Keraton di huni oleh ribuan menjangan.

Putra dari juru kunci Hastana Keraton Kartasura bernama Raden Tumenggung Kerti Hastono Dipuro,Surya Lesmana mengatakan rasa rindu penguasa Keraton Kasunanan Surakarta terhadap rumah lamannya yang mendorong diperintahkannya prajurit Keraton untuk mencari keraton lama peninggalan leluhurnya. 

"Setelah ditemukan dan dibersihkan, akhirnya kawanan menjangan di giring ke sebuah desa dan di buatkan kandang dan desanya di beri nama Kandang Menjangan yang saat ini lokasinya sudah dijadikan Markas Kopassus Kandang Menjangan,"jeas Surya Lesmana saat berbincang dengan Okezone, di Situs Keraton Kartosuro, Kecamatan Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di masa sekarang situs saksi sejarah peninggalan Keraton Kartosura yang merupakan cikal bakal berdirinya dinasti Mataram yakni Solo dan Jogjakarta hanya tersisa hanyalah tembok bata yang masih berdiri kokoh. Tak hanya itu, bekas keraton Kartosuro saat ini telah berubah status menjadi pemakaman bagi pihak keraton Surakarta.

Di situs Keraton Kartosuro inilah,dimakamkan Kerabat Keraton,termasuk para selir dari Paku Buwono IX. Masih kokohnya sisa-sisa tembok Keraton Kartosuro yang dibangun pada tahun 1680 1745 menandakan bila arsitektur pembangunan Keraton yang memerintah selama 65 tahun ini, sangat luar biasa.

Meskipun pada masa pembangunannya tidak menggunakan semen namun menggunakan tetes tebu sebagai perekat batu batanya. Namun mampu membangun tembok setinggi 6 meter dan memiliki ketebalan 2 meter. Sedangkan luas bangunan Keraton Kartosuro sendiri seluar 5 Hektar.

"Mereka yang dimakamkan di komplek tersebut adalah Makam Mas Ngabehi Sukareja, Makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah yang merupakan garwa ampil atau selir PB IX yang semasa hidupnya dikenal cantik, pandai berdiplomasi dan memiliki pengasihan. Terus makam KPH Adinegoro, Makam Ki Nyoto Carito seorang dalang terkenal. Tapi atas perintah Gusti Wandansari (gusti Mung) makam ini ditutup. Selain sudah penuh, adanya ontran-ontran di dalam Keraton karena ada dualisme kepemimpinan di Kraton Solo. Sehingga membingungkan para abdi dalem," pungkasnya. 

Post a Comment

 
Top