0
Tenun ikat di Ambon dilakukan dari tradisi turun temurun (Foto:Johan Sompotan)
INDONESIA punya keragaman budaya yang kaya, termasuk kain tenun yang dihasilkan. Salah satunya, tenun ikat yang ada di pulau Ambon.

Budaya tenun menenun kain ikat di Ambon berawal dari tradisi dari lelubur nenek moyangnya, sehingga kebiasaan menenun ini rasanya enggak akan pernah habis. Walaupun mulai banyak tren modern yang mulai merambah dunia tenun.

Menurut Pak Niko Demus, pengrajin tenun ikat Ambon ini mengatakan bila pengerjaan tenunnya tidak bisa dilakukan dengan memakai mesin yang modern, sebab akan menghancurkan benang bordir yang dipakai guna membuat tenun ikat.

"Tenun ikat itu hanya bisa dilakukan dengan proses tradisional, tidak bisa memakai mesin karena proses pengencangan benangnya harus dilakukan dengan kayu khusus," ungkapnya kepada Okezone saat ditemui di Desa Tawiri, Ambon, baru-baru ini.

Baginya, dalam mengerjakan tenun ikat dibutuhkan kesabaran tinggi. Makanya, prosesnya bisa memakan satu hari untuk membuat kain tenun berukuran kecil.

"Kalau proses pengerjaannya terdapat benang yang putus, maka semua bahan harus dirombak ulang makanya dibutuhkan kesabaran dalam melakukannya," ujarnya.

Pak Niko telah melakukan pengerjaan tenun sejak tahun 1982. Berawal sebatas membuat syal, kemudian usaha yang ditekuninya pun maju dengan pesat. Diakuinya, dalam melakukan pengerjaan tenun ikat hanya bisa mendapatkan tiga hingga lima kain tenun ikat.

Sebelum membuat tenun, maka benang yang sudah dipesannya harus dicuci terlebih dahulu. Fungsinya adalah biar benang tidak luntur. Proses pencuciannya pun memakan waktu lama.

"Benang dicuci biar tidak merusak kain tenun yang dibuat, benang harus direndam selama tiga jam kemudian dicuci dengan memakai deterjen biasa. Lakukan hingga air yang dipakai dalam mencuci benang menjadi bening kembali," timpalnya.

Nah, untuk membuat tenun ikat ini wajib memakai alat tenun yang dinamakan pemintal. Alat ini dipakai untuk memutar benang yang sudah dicuci, dengan memakai alat ini maka benangnya akan mudah digunakan.

Siapkan pula peralatan lainnya, seperti pamindangan (alat untuk pengikat benang), ililik atau pamindangan (digunakan untuk memisahkan benang bagian atas dan benang bagian bawah), Hetheta (pemukul atau pemadat benang tenun biar jadi rekat, ada lagi kekan (alat penahan tenun), tete (alat penggosok benang), kunkao (alay untuk melilitkan benang sehingga bisa menumpu tenunnya), terakhir ada swan (alat buat penjait tenun) serta gendongan (alat penahan badan).

"Proses yang sulit itu adalah pada saat membuat motif yang diinginkan, lakukan dengan perlahan. Dalam menghasilkan motif maka tangan tak boleh keringat sebab akan mempersulit proses pengerjaannya," tutupnya.

Post a Comment

 
Top