Acara jalan-jalan yang pertama dilakukan di Cilacap adalah cruising dengan tujuan ke Nusa Kambangan dan Segara Anakan. Nama Nusa Kambangan sendiri dipercaya berasal dari “Nusa Kembangan”, dimana “Nusa” berarti Pulau dan “Kembangan” berasal dari kata kembang yang berarti bunga-bungaan. Disebut bunga karena di pulau tersebut tumbuh sejenis bunga khas yang diberi nama bunga Wijaya kusumah.

Untuk orang luar, boleh jadi nama Nusa Kambangan lebih dikenal daripada kota Cilacapnya sendiri. Hal ini disebabkan karena kehadiran beberapa Lembaga Pemasyarakatan yang menampung para narapidana kelas berat, mungkin seperti Alcatraz di negara Paman Sam. Mendengar namanya saja, kita akan membayangkan suatu lokasi yang penuh hutan belantara, penjagaan super ketat dan sangat terisolasi dari dunia luar, pokoknya yang ngeri-ngeri. Setidaknya, itulah gambaran yang saya bayangkan berdasarkan tontonan film yang menggambarkan LP berpenjagaan ketat di luar negeri. Menurut sejarahnya, beberapa LP di Nusa Kambangan pertama kali dibangun pada masa kolonial, yaitu tahun 1908 dengan tujan untuk menampung para penjahat kelas berat dan tahanan politik. Pada awalnya dibangun sebanyak 9 buah LP, tetapi 5 bangunan diantaranya telah ditutup, yaitu Nirbaya, Gleger, Karang Tengah, Karang Anyar dan Limus Buntu. Empat bangunan LP yang masih digunakan adalah Permisan (dibangun tahun 1925), Batu (1925), Besi (1929) dan Kembang Kuning yang dibangun setelah kemerdekaan, pada tahun1950. Beberapa narapidana kelas berat dan selebriti yang pernah ditahan disana antara lain adalah Jhoni Indo, Tommy Soeharto, Bob Hasan, Kusni Kasdut, Imam Samudra, dan Amrozi.


Ada beberapa pilihan transportasi yang bisa digunakan untuk ke Nusa Kambangan, dan yang kami pilih adalah perahu berukuran sedang dengan mesin berukuran 5 PK dan mampu membawa sekitar 15 orang. Adapula kapal, biasa disebut compreng, yang bisa mengangkut penumpang lebih banyak tetapi lajunya lebih lambat. Kali ini perjalanan kami hanya ingin menyusuri selat – sungai yang memisahkan Nusa Kambangan dengan Pulau Jawa. Di sepanjang perjalanan, pada bagian Nusa Kambangan yang terlihat adalah hamparan hutan yang masih lebat, meskipun ada beberapa lokasi yang telah terbuka atau ditanami dengan tanaman pertanian/perkebunan, seperti kelapa dan sengon. Di bagian Pulau Jawa, terutama di Segara Anakan, bentang lahan terutama didominasi oleh vegetasi mangrove, dengan dominansi jenis-jenis Rhizopora spp., Avicennia spp., dan Nypa frutican. Di sepanjang selat tersebut pohon umumnya memiliki ketinggian tidak lebih dari 3 meter, dan di lokasi yan berdekatan dengan Cilacap, pada saat surut terlihat adanya abrasi yang menggerus pinggir selat/sungai. Di beberapa lokasi yang berdekatan dengan bangunan LP, terdapat beberapa nelayan yang menebar jaring untuk menangkap ikan di tengah sungai. Bangunan LP-nya sendiri hanya terlihat benteng dan atap merahnya, dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa. Ada beberapa rumah di sekelilingnya, mungkin perumahan karyawan dan kantor LP.

Setelah hampir 1,5 jam perjalanan, kemudian melewati perkampungan penduduk yang termasuk kedalam Kecamatan Kampung Laut. Menurut informasi, Kecamatan tersebut terdiri dari 3 desa, yaitu Desa Klaces, Ujung Alang dan Panikel. Tidak ada yang terlalu istimewa dari perumahan tersebut, dalam arti hampir sama dengan bangunan di tempat lain, hanya saja memang letaknya yang cukup terisolir dan sangat terkait dengan keadaan hutan mangrove di sekelilingnya. Di dekat kantor kecamatan, ada semacam dermaga penyeberangan yang menjadi pintu lalu lintas untuk masyarakat di kiri dan kanan sungai.

Perjalanan diteruskan hingga ke arah “muara”, sampai akhirnya tiba di pinggir laut selatan yang terlihat sangat luas dan ombak yang lebih besar. Terlihat juga adanya batas air, antara selat/sungai dengan lautan lepas yang berair lebih biru. Pada bagian muara, terdapat batu besar, kokoh sendiri, dan konon kabarnya sering didatangi orang. Puas menikmati biru laut, perahupun kembali, dan mampir di Desa Ujung Alang untuk mencari tempat makan siang dan shalat dhuhur. Desa inipun sebenarnya menyajikan pemandangan yang menyenangkan, suasana “asin” dengan hamparan mangrove selama perjalanan kemudian berubah menjadi hamparan sawah berpadu dengan hutan tropis yang tumbuh di hamparan batu karang. Masih banyak ditemukan pohon-pohon besar yang umurnya dijperkirakan sudah puluhan tahun. Pemandangan yang khas adalah di pohon kelapa yang ada dikampung, hampir seluruhnya terdapat jerigen atau potongan botol plastik yang diletakan pada pangkal pelepah daun. Rupanya, penduduk terbiasa untuk menampung cairan nira yang keluar dari pohon kelapa. Setiap hari, pagi dan sore, penduduk mengumpulkan nira tersebut dengan menggunakan pongkor (penampung nira) jerigen atau botol pelastik, sebagai ganti dari pongkor bambu yang dulu biasa digunakan. Nira tersebut kemudian dimasak untuk dijadikan sebagai gula merah. Salah seorang penduduk mengatakan bahwa untuk membuat 10 kilogram gula merah, dibuat dari sekitar 50 liter nira yang diambil dari 20 pohon kelapa.
Berjalan lebih jauh, sekitar 600 meter menyusuri jalan kampung yang sudah diperkeras, sampai ke lokasi yang disebut sebagai “masigit sela”. Ini adalah merupakan tempat dimana banyak pengunjung dari luar kota berkunjung untuk berziarah. Disini
sebenarnya kita harus sangat berhati-hati, jangan sampai terperosok kepada perbuatan syirik yang sangat dibenci Islam. Menjelang masuk ke lokasi, yang terletak diantara gunung karang dan hamparan sawah, terdapat sebuah mushala kecil dengan kolam berukuran sekitar 15 x 15 meter. Kehadiran kolam air tawar yang bersumber dari mata air gunung tersebut sungguh sangat menakjubkan. Sungguh sangat mengingatkan ke masa kecil dimana masjid berdampingan dengan kolam-kulah tempat jamaah berwudhu. Kolam dengan air bening dan dingin serta rimbun pepohonan besar di sekitarnya tersebut menghapuskan panas terik matahari. Rupanya, tak tahan dengan godaan sejuknya air kolam, para keponakan-pun akhirnya berlompatan mandi di kolam.
cilacap17Puas mandi, minum kopi-susu dan makan mie telor (padahal baru saja makan siang), selesailah perjalanan sore ini, dan perahupun membawa kami kembali ke kota Cilacap. Masih banyak yang belum dieksplorasi, terutama hutan Cilacap serta keragaman hayati lahan basah di Segara Anakan. Mungkin lain kali kami berkunjung lagi.
Post a Comment